Laman

Tampilkan postingan dengan label pitutur luhur. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pitutur luhur. Tampilkan semua postingan

Rabu, 29 Agustus 2012

LEBARAN DAN GEJALA SHOPAHOLIC





Sungguh mencengangkan lebaran  2012, menurut data posko lebaran 2012 didapat data sebagai berikut :

Compact_posko-mudik2012-ditutup
Data Mudik Lebaran 2012
Indikator
Jumlah
Pemudik
14,41 juta
Kecelakaan
5.233 insiden
Meninggal
908 orang
Sumber: Kemenhub


 Kegiatan pemantauan transportasi Lebaran 2012 oleh Posko Tingkat Nasional Angkutan Lebaran Terpadu 2012 resmi ditutup oleh Menteri Perhubungan E.E. Mangindaan hari ini, Selasa  (28/8/2012).

Menhub menggelar jumpa pers penutupan Posko Tingkat Nasional Angkutan Lebaran Terpadu 2012 di kantor Kemenhub pagi hari ini.

Total pemudik tahun ini tercatat naik 10,76% menjadi 14,41 juta orang dengan 5.233 kasus kecelakaan yang menyebabkan 908 korban meninggal dunia

Sungguh Luar biasa , namun apakah fenomena ini tidak mengusik perhatian kita ? banyak hal -hal yang mestinya diperhatikan, bahwa sungguh sia-sia pengorbanan yang seperti itu, padahal lebaran , sebagaimana bagusnya hikmah yang didapat, bukanlah sebuah kewajiban, sebagaimana ibadah haji.
Ketika lebaran kita melihat perilaku yang berlebih-lebihan, seperti gejala shopahoc.

Selasa, 02 Agustus 2011

MENGUATKAN INTEGRITAS WAROK DENGAN PUASA




Para Warok, Dibulan suci ini kita  mendapatkan kesempatan untuk memperbaiki diri dan menguatkan jatidiri sebagai pengamal warok sejati. Ketika dahulu Ki Ageng Mirah dengan bimbingan para wali menguatkan citra warok sebagai jatidiri wong Ponorogo dengan berusaha menebarkan  cahaya Islam dalam gelapnya aqidah , maka sejatinya saat kini sebagai warok  masa  kini , hendaklah mengembalikan jaridiri   warok sebagaimana diajarkan oleh para leluhur kita.
Salah satu ajaran itu adalah laku tirakat, yang merupakan bentuk lain dari ajaran puasa dalam Islam. Maka ketika   kita temui pesan Rasulullah SAW   ;  “Barang siapa berpuasa Ramadhan dengan dasar iman dan ihtisab, niscaya diampunkan dosa-dosanya terdahulu.”  inilah hakekat penyucian diri seorang warok. Allah sangat mencintai kesucian  baik suci secara lahir ataupun suci secara batiniah dalam arti luruhnya dosa-dosa kita sehingga kita kembali menjalani fitrah sebagai manusia sempurna. Warok Sejati .
          Telah kita bicarakan dalam renungan kita yang lalu  bahwa seorang warok itu memiliki kekuatan tidak dalam hal fisik saja akan tetapi kekuatan dalam hal keteguhan pengendalian diri. Kalau tidak maka tidak bisa disebut warok, karena warok adalah orang yang berhasil menghindari maksiat dan hal-hal yang tak berguna. Maka sejalan dengan hikmah puasa sesungguhnya puasa itu juga mampu menguatkan rasa pengendalian diri bagi seorang warok, untuk tidak mengumbar hawa nafsunya
ada beberapa tips dalam puasa :

Minggu, 22 Agustus 2010

warok dan tasyawuf

WAROK DAN TASYAWUF

Dari beberapa catatan sejarah, dapat dihipotesa bahwa istilah warok muncul bersamaan dengan masuknya Islam di Ponorogo. Secara kontekstual hal ini berkait dengan strategi dakwah para wali yang beberapa diantaranya berupaya mengasimilasikan kearifan lokal dengan ajaran Islam. Secara sosial Politik, dimasa transisi beralihnya kekuasaan kerajaan Hindu Majapahit ke kerajaan Islam demak bintoro , membutuhkan kearifan dalam strategi dakwah.

Para Wali menyadari benar, bahwa tidak bijaksana apabila kebiasaan lama dirubah secara frontal.Salah satu kearifan itu dilakukan melalui media seni budaya. Sunan Kalijogo yang menggubah wayang kulit , sebenarnya bukan hal baru sama sekali, karena di era Majapahit sudah dikenal pertunjukan wayang beber . Namun Sunan kalijaga mengenalkan ajaran Tasyawuf dengan memasukkan unsur Panakawan. Sunan Kudus membangun Menara Masjid Kudus dengan bentuk mirip candi, begitupula sunan Giri dan Sunan Drajad yang memperkenalkan gending-gending sufi yang begitu populer di Masyarakat
Tokoh sentral dalam penyebaran Islam di Ponorogo adalah BATHARA KATONG. Bathara Katong adalah adik dari Raden Patah Raja Demak yang sama-sama putra dari raja Majapahit, namun secara politik sudah dikuasai oleh para wali. Dengan demikian sebenarnya dapat ditarik benang merah, strategi budaya di Ponorogo dengan pola politik dakwah di Jawa pada Umumnya yang pada masa itu sedang dikembangkan ajaran tasawuf.

Gotrah warok, Untuk melacak jejak keluhuran sang warok maka ada baiknya kita mengenal ajaran tasyawuf. Karena saya yakin, inilah roh sebenarnya yang hendak di sampaikan para penggiat budaya pada jaman itu. Tasyawuf berasal dari kalimat safaa, yang artinya suci atau jernih. Namun dapat dijelaskan bahwa Tasyawuf adalah ilmu yang mempelajari hal ihwal tentang jiwa ; bagaimana membersihkanya dari sifat-sifat tercela menuju keridlaan Allah SWT. PROF. DR Hamka menyatakan tasyawuf adalah membersihkan jiwa dari pengaruh benda atau alam, supaya ia mudah menuju Allah.

Hadratus shaih Imam AL Ghazali menjelaskan Tasyawuf berarti memakan yang halal, mengikuti ahlak, perbuatan dan perintah Rasul yang tercantum dalam sunahnya. Sedangkan menurut IBNU KHALDUN Tasyawuf adalah metodhe pokok kaum sufi untuk selalu memperhitungkan jiwanya sampai ia benar-benar telah menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya.

Secara ta’lim taysawuf dapat dijelaskan bahwa :
1. Tema : Tema ilmu tasyawuf adalah pekerjaan hati dan pancaidra yang . berkaitan dengan penyucian dan pembersihan jiwa.
2. Manfaat : membersihkan hati dan mengenal Tuhan untuk memperoleh kebaikan dunia akhhirat.
3. Kajian Tasyawuf :
a. Takwa pada Allah, baik dikala sunyi atau ramai yang disebut wara’ dan istiqamah
b. Mengikuti sunah rasul.
c. Berpaling dari kepentingan kepada makhluk dan semata mengabdi pada Allah yang tercermin dari sikap sabar dan tawakal.
d. Ridla terhadap pemberian Allah,
e. Ruju’, kembali kepada Allah disaat dankondisi bagaimanapun.
4. Problematika Tasyawuf : Zuhud, Wara’, Mahabah, fana’ , baqa, raja’, penyakit hati , taubat, Istiqmah, dll.

Dari uraian diatas jelas sekali, bahwa istilah warok di Ponorogo, diambil dari salah satu problematika tasyawuf yaitu wara’. Yang sebenarnya tidak bisa dipisahkan dari problematika - problematika tasyawuf lainya. Untuk mencapai derajad tertinggi seorang sufi yaitu Ma’rifat . Ma’arifat artinya apabila seseorang karena kecerdasan dan Karunia dari Tuhan ia diberikan kesempatan mengenal lebih banyak hakekat, sifat dan kasih Allah swt. Sehingga hatinya tenteram di dunia dan akhirat kelak.

Ada 3 terma dalam ilmu tasyawuf, yaitu syari’at, thariqat dan hakekat. Ketiga-tiganya haruslah ada dan saling mengadakan, kalau tidak maka akan terjerumus kesesatan. Syari’at adalah hukum formal yang bersumber dari al-Quran dan hadits nabi, yang harus dilaksanakan berisi perintah dan larangan Allah. Thariqah, adalah aktualisasi dari syari’ah dalam kehidupan nyata berupa perbuatan, fikiran dan sikap yang dapat dirasakan dalam hidup. Sedangkan hakekat adalah penghayatan dan terbukanya tabir antara manusia sebagai hamba terhadap Tuhannya. Sehingga hatinya benar-benar merasakan ada_Nya dengan hikmah-hikmah yang hakiki.

Imam Malik berkata : Barangsiapa menjalani syari’at tanpa sampai pada hakekat maka ia telah fasik. Barang siapa mencapai hakekat tetapi tidak menjalani syariat maka ia zindik, Dan barang siapa mengumpulkan keduanya maka sungguh ia telah benar-benar mencapai hakekat.

Tingkatan-tingkatan hati adalah sebagai berikut :
1. Nafs al-Amarah, tingkatan hati yang paling rendah, dimana ia masih tergantung kepada syahwat, kenikmatan biologis.dan dipenuhi sifat-sifat tercela, seperti serakah, sombong, takabur , dendam dsb.
2. Nafs al- Lawwamah, hati yang bercahaya dengan sinar hati, adalah hati yang dipenuhi Jihad ( mujahadah) untuk melawan nafsunya. Kadang ia menang kadang ia kalah dengan akal dan persepsinya sendiri.
3. Nafs al-muthmainah, hati yang bercahaya oleh sinar hati, adalah hati yang telah menang menundukkan syahwatnya. Ia bergulat dengan duniawi tapi hatinya telah bebas dari ketergantungan kepada makhluk.
4. Nafs al-mulhimah, hati yang di ilhami ilmu dan hikmah, ia telah berada dijalan-NYa dengan mantap, istikomah dan kana’ah.
5. Nafs al-Radliyah, hati yang telah benar-benar rela dan tunduk serta percaya secara total kepada Allah.
6. Nafs al-Mardliyah, adalah hati yang telah diridloi oleh Allah. Maka dia pantas disebut sebagai wali Allah, karena apa yang dilakukan adalah pencerminan dari sifat-sifat Allah.
7. Nafs Al-kamilah, adalah hati yang telah sempurna berad di jalan Allah

Para Gotrah warok, mari kita instropeksi diri, berada pada maqam level mana diri kita. Dibulan ramadlan, ini adalah saat kita melakukan mujahadah, jihad melawan nafsu kita sendiri.





Sabtu, 07 Agustus 2010

ORA KUMANTIL KADONYAN

warokkini, Ora kumanthil kadonyan ora ateges ora kadunungan donya, Tidak bergantung duniawi bukan berarti melepaskan keduniaan. Pitutur luhur para tetua warok tersebut memberikan ruang waktu kodrat manusia untuk menjalani hidup wajar, menurut jamanya. Pemahaman inilah yang memungkinkan Gotrah Ponorogo kukuh memegang nilai warok di saat kekinian.
Dalam tulisan saya yang lalu saya ulas bahwa warok adalah pencapaian spiritual dimana seseorang mampu melepaskan nafsu sahwatnya. Hakekat warok yang menahan diri terhadap keburukan dan melepaskan diri berbuat berlebihan mengandung nilai Juang bahwa warok telah mampu memerdekakan diri dari penjajahan nafsu.

Para Gotrah warok, pemahaman diatas sama sekali tidak bermaksud merubah kodrat manusia sebagai manusia. Manusia tidak akan pernah menjadi dewa atau malaikat. Manusia tetap menjalani fitrah manusiawi, yang perlu makan untuk hidup, perlu cinta untuk bersosialisasi, perlu istri dan rumah tangga untuk kembali sehabis bekerja dan mengabdi.

Dari akar ajaran warok itu sendiri yaitu zuhud dan wara’, dimana wara’ dimaksudkan mampu menahan diri untuk berbuat mudharat ( keburukan ) sedangkan Zuhud dimaksudkan sebagai pengendalian diri untuk tidak berlebihan menuruti kesenangan, dapat dipahami bahwa kedua fondasi spiritual itulah laku utama untuk memerdekakan diri bergantung pada nafsu shawat, dan menjadi seorang warok sejati.
Laku seorang warok yang memerdekakan diri dari nafsu duniawi, bukan berarti melepaskan dunia ini sama sekali. Ini adalah sesuatu yang mustahil dan bertentangan dengan kodrat manusiawi sebagai manusia. Yang disebut Zuhud adalah apabila Engkau meninggalkan dunia dari hatimu meskipun dunia itu dalam genggamanmu. Sebagaimana dicontohkan Umar bin Khatab, meskipun beliau seorang khalifah ( raja ) dimana kekuasaan, harta dan tahta ada digenggamanya, beliau tetap hidup sederhana dan bersahaja. Sama sekali tidak dianggap nafsunya untuk bersenang-senang berlebihan dan memanfaatkan kekuasaan, harta dan tahta yang ada digenggamanya.

Seorang warok masa kini tidak harus hidup miskin, compang-camping dan menderita. Orang yang susah hidupnya karena miskin, tidak dapat disebut zuhud, karena barangkali hatinya justru marah dan menyalahkan Tuhan. Bahkan sering berbuat maksiat ( tidak wara’ ) untuk mencukupi kebutuhanya.
Zuhud seorang warok berarti tidak memanfaatkan kukuasaan, kemampuan , harta dan kesempaan untuk memperturutkan nafsu sahwatnya. Dan apabila hatinya sudah terbebas dari nafsu, yang ada hanyalah nilai-nilai kearifan dari Tuhan. Hatinya hanya ada Tuhan, itulah yang dimaksudkan sebagai warok sejati.

ATI SING KUMANTHIL SAHWAT

ATI SING KUMANTHIL SAHWAT
DUDU WAROK



warokkini, Hati yang bergantung pada nafsu syahwat, bukan hati warok.. Pitutur Luhur atau Pedoman luhur para tetua adat ini , bermakna bahwa pencapaian derajad warok adalah sebuah perjalanan spiritual yang panjang, setahap demi setahap dan menurut laku sesuai usaha dan kematangan tumbuh dan berkembangnya manusia itu sendiri.
Dalam bahasan terdahulu saya sampaikan makna warok, Namun apa yang kita lihat saat ini, penggambaran sosok warok yang kasar, seram dan membuat takut orang , hendaklah digambarkan sebuah laku yang memang harus demikian adanya. Saya sangat prihatin , bahwa dalam pertunjukan reog yang seharusnya suci dan sakral , sering dinodai oleh ulah para warokan yang justru menjunjung nafsu sahwatnya. Dalam pergelaran reog sering kita jumpai mabuk-mabukan dan pamer kekuatan, serta pamer aurat penari jathil yang sebagian besar adalah para gadis remaja.

Mereka beralasan, ya itulah tuntutan jaman. Namun demikian sebagai dlondong Ponorogo, seharusnya kita pertahankan nilai-nilai luhur itu, saya tidak anti perubahan, sepanjang yang dirubah adalah geraktari dan pola pergelaran, tetapi nilai-nilai luhur warok harus tetap tertanam di jantung Putra Ponorogo sejati.


Kita sadari benar wahai gotrah Ponorogo bahwa laku seorang warok memang bertahap, dan yang kita saksikan saat ini adalah para WAROKAN, bukan para warok. Mereka memang pantas disebut warok dalam pengertian nek wareg ngorok. Lebih kasarnya perilaku mereka ( maaf ) setingkat dengan para preman terminal bus. Dan itu bukan warok sejati.

Untuk menjadi warok masakini, kita tidak harus selalu pakai pakaian serba hitam, berjambang lebat dan perut buncit. Penampilan fisik boleh sesuaikan kepentingan, boleh pakai jas berdasi ala eksekutif, berpakaian safari ala pejabat, bersorban ala kyai atau apapun situasinya yang penting pegang teguh ajaran para leluhur warok.

Para gotrah Ponorogo, pencapaian derajat warok , dimana kita sudah mampu memerdekakan hati kita dari penjajahan nafsu sahwat memang tidak mudah, bahkan itulah perjuangan besar dan memerlukan keberanian besar pula. Tapi jangan khawatir, bahwa kita jalani hidup ini sewajarnya saja sambil menjiwai nilaui-nilai warok itu. Nanti, pada saatnya kita bisa mencapai derajat itu. Karena nilai-nilai warok itu sebenarnya juga nilai-nilai Universal dan sesuai fitrah manusia.

Penggambaran pencapaian nilai luhur para warok itu, secara kultural sejiwa dengan ajaran Sunan Kalijaga tentang Panakawan , semar gareng petruk dan bagong. Kita tahu bahwa dimasanya Ponorgo juga tidak lepas dari pengarus para wali juga sebagaimana daerah mataraman yang lain. Ajaran ini senyawa dengan ajaran tasawuf Ulama besar Imam Ghazali. Menurut Sunan Kalijaga pencapaian spiritual manusia dijabarkan empat karakter yaitu Semar, Gareng, Petruk dan Bagong. Senada apa yang dikiaskan Imam Gazali tentang Lawamah, Mardiyah, amarah, mutmainah hingga mencapai ma’rifat.

Bagong, sebagai sosok wayang yang bermata lebar, mulut lebar, perut buncit itulah pencapaian spiritual yang paling rendah. Dia adalah para warokan dimana masih dikuasai nafsu sahwat. Matanya tidak bisa dikendalian untuk melihat maksiat, mulutnya tidak bisa diam untuk berkata kasar, perutnya buncit karena tidak peduli makan perkara haram atau batal.

Petruk, digambarkan sebagai sosok yang serba panjang, mulut panjang, hidung panjang , badan panjang dan kaki tangan panjang. Petruk dari kalimat fikr, artinya berfikir dan suka mengandalkan ilmunya. Ini derajat yang lebih baik, meskipun masih merasa sok pintar, sombong , sok ilmiah dan pakar ( apa-apa dibikin jadi sukar ) , namun sering juga hidungnya panjang ( seperti pinokio ) karena sering tidak jujur pada hati nuraninya. Dia lebih percaya pada persepsinya daripada mengikuti hakekat dan prinsip-prinsip Universal.

Gareng sebagai sosok yang matanya juling, kakinya cacat, tanganya cekot ( invalid ) . Ini pencapaian yang lebih baik dalam pengendalian nafsu. Meskipun masih harus bertempur habis-habisan dengan sahwatnya tetapi sudah dapat dikendalikan dengan bicara seperlunya, membuitakan mata dan telinga untuk mengindra maksiat, berjlan merunduk untuk menekan kesombonganya.

Derajat yang paling tinggi adalah Semar, dia selalu menegadah keatas dan hanya bergantung pada Tuhanya semata. Semar adalah makhluk setengah dewa, karena hatinya sudah merdeka dan sepenuhnya tidak ingin menuruti nafsu sahwatnya. Inilah Warok Sejati.

Bagaimana gotrah Ponorogo, anda masih menjadi bagong, petruk , gareng atau semar ?