Laman

Selasa, 31 Agustus 2010

Pewarisan Nilai Moral dan Budaya bagi Masyarakat di Kabupaten Ponorogo

Warok merupakan salah satu bentuk kebudayaan Jawa yang sudah diakui dan dikenal khususnya bagi masyarakat Ponorogo. Bagi masyarakat Ponorogo warok bukan merupakan suatu hal yang asing lagi, justru seseorang akan merasa bangga dan tersentuh hatinya bila disebut Warok. Warok diyakini oleh masyarakat Ponorogo sebagai seseorang yang mempunyai keluhuran budi dan tingkah laku serta memiliki kelebihan ilmu dibandingkan dengan masyarakat pada umumnya.


Tujuan penelitian ini untuk mengetahui (1) sejarah Warok dalam Reog Ponorogo, (2) kriteria seseorang yang berstatus sebagai seorang Warok, (3) perilaku warok yang menggambarkan nilai-nilai moral di masyarakat, (4) peranan Warok dalam mewariskan nilai-nilai moral dan budaya bagi masyarakat di Kabupaten Ponorogo.

Penelitian ini dilakukan di Kabupaten Ponorogo yang terfokus pada 5 Eks Pembantu Bupati (EPB) yaitu Kecamatan Ponorogo, Sukorejo, Badegan, Kauman, dan Jetis. Pendekatan penelitian yang digunakan adalah pendekatan kualitatif yang bersifat deskriptif. Dalam penelitian ini subjek penelitian adalah tokoh Warok dari kelima Eks Pembantu Bupati yang eksistensinya masih diakui oleh masyarakat Ponorogo. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah observasi, wawancara, dan dokumentasi.

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa (1) sejarah munculnya Warok dalam Reog Ponorogo ada dua versi. Pertama, Warok muncul bersamaan dengan jathil yang membawa gong pada saat mengiringi Prabu Klana Sewandana yang hendak mempersunting Dewi Sanggalangit putri dari Kerajaan Kediri. Kedua, munculnya Warok adalah membonceng pada kesenian reog, (2) kriteria seseorang yang berstatus sebagai seorang Warok dapat dikelompokkan menjadi dua. Pertama, Warok memiliki tipologi dan profil, berpakaian khas Ponorogo (Penadon) dengan warna khas baju hitam celana hitam, beserta atribut-atribut sebagai pelengkapnya. Warok mempunyai wibawa, disegani dan dihormati oleh masyarakat. Selain itu Warok juga sebagai pemimpin sekaligus pemain barongan yang mengerti arti hidup dan kehidupan. Dilihat dari tataran ilmu, Warok adalah figur yang kebak ilmu, artinya menguasai ilmu baik lahir maupun batin. Selain itu, Warok juga memiliki ilmu kesaktian dan ilmu kekebalan badan. Kedua, jalan (lelaku) yang harus ditempuh seseorang untuk mencapai Warok terlebih dahulu harus bisa memenuhi 9 (sembilan) syarat pokok, yaitu: berhati bersih dan berpikir positif; sopan santun; jujur, tidak berkata kotor dan berhati-hati; mengurangi keinginan nafsu; berjiwa perwira; adil, bijaksana dan tidak membeda-bedakan; suka menolong tanpa pamrih; sabar; tidak sombong. Selanjutnya seseorang harus melaksanakan Tapa Brata. Terakhir melakukan puasa dari tahap awal, tengah, sampai akhir. (3) perilaku Warok yang menggambarkan nilai-nilai moral di masyarakat antara lain diekspresikan dengan Hasta Brata (delapan laku kepemimpinan), bergaya hidup sederhana yang tidak memikirkan kepentingan duniawi dan selalu mengutamakan kepentingan masyarakat disamping kepentingannya sendiri. Selain itu Warok selalu bersikap jujur, sopan santun dan berhati-hati dalam berucap dan bertingkah laku, berani membela kebenaran, tidak sombong, rendah hati, selalu berfikir jernih dan berani bertanggung jawab, (4) peranan Warok dalam mewariskan nilai moral dan budaya bagi masyarakat di Kabupaten Ponorogo yaitu: sebagai teladan dan panutan bagi masyarakat; sebagai pemimpin, guru serta pembimbing; sebagai pengajar/pelatih, baik dalam membuat perlengkapan reog maupun melatih tari reog; dan sebagai penggerak massa untuk aktif dalam kegiatan kemasyarakatan sekaligus sebagai pengarah, penunjuk, dan pembimbing.
Berdasarkan temuan penelitian ini, agar disarankan bagi masyarakat Ponorogo dan pelaku kesenian Reog Ponorogo agar mencontoh perilaku-perilaku yang diwariskan oleh Warok serta mengembangkan potensi dengan menciptakan kreasi-kreasi baru dalam berkarya, supaya kesenian Reog bisa tetap eksis sekaligus bisa lebih menarik perhatian penonton. Selain itu figur Warok agar selalu berpegang teguh pada karakteristiknya. Mengingat Reog Ponorogo dan Warok memiliki potensi dan mampu menjadi aset pariwisata daerah, Pemerintah Kabupaten Ponorogo diharapkan melakukan pembinaan serta memfasilitasi sarana dan prasarana kepada para tokoh Warok dalam konteks kesenian Reog.

Minggu, 29 Agustus 2010

PERLUKAH MENUNGGU IKHLAS

Pagi itu udara cukup cerah, meskipun dalam suasana ramadlan, kami biasa bersenda gurau dengan teman-teman kantor.
Kebetulan Pak Ibnu Nasikhin membuka gurauan yang berkait dengan zakat mal. Karena beberapa kawan telah memiliki mobil sekelas Kijang Avansa, ada lagi yang memiliki usaha pertokoan , dengan gaya bercandanya mengingatkan tentang kewajiban membayar zakat mall ketika hartanya telah mencapai nishab.

Satu hal yang menjadi hikmah saya kali ini, ketika seorang teman dengan nada serius , menyatakan untuk melakukan hal diatas ( zakat ) yang penting iklas. Awalnya saya tidak begitu paham maksudnya dan saya meng-iya -kan perkataanya, karena ibadah apapun harus diikuti iklas. Jadi, apa yang salah ?

Namun setelah saya pikir panjang, maksud teman saya itu adalah ibadah yang bersifat mengeluarkan harta , apakah itu shadaqah, zakat, infaq dan seterusnya harus didasarkan kepada kadar keihlasan. Jadi, zakat mall atau zakat fitrah pun kalau belum iklas , berarti boleh tidak mengeluarkan, dong !

Tentu ini salah besar kalau menyangkut sesuatu yang wajib. Karena secara syari’ah sesuatu yang wajib bersifat memaksa dan mengikat secara hukum . Dengan kata lain, dalam kondisi iklas atau tidak iklas kewajiban harus dilaksanakan. Hal ini sebagaimana terjadi pada jaman khalifah Abubakar Ash shidiq, beliau bahkan mengerahkan tentara untuk mengambil Zakat kepada penduduk di Makkah. Allah berfirman dalam surat At-Taubah 103 : “ Ambilah Zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan menyucikan mereka ….”. Rasulullah dalam hadits yang di riwayatkan Tabrani menyatakan “ Orang yang enggan membayar zakat akan masuk neraka.”

Dalam khasanah spiritual, iklas merupakan landasan utama karena menyangkut sah tidak sahnya ibadah. Iklas merupakan pekerjaan hati yang menerima dengan rela dan penuh kesadaran apa yang menjadi ketentuan sariah. Dalam kontek hakekat maka pernyataan teman saya tadi memang tidak salah. Apagunanya membayar Zakat kalau tidak iklas. Tetapi dalam Ranah Syariah teman saya tadi salah, karena menunaikan yang wajib tidak perlu menunggu iklas .

Apakah ini sebuah pertentangan ? Bagi ahli hukum tentu paham hakekat tadi adalah sesuatu yang mengada-ada, karena secara legal formal , peraturan Zakat sudah mutlaq dan jelas. Bagi ahli tasyawuf tanpa ikhlas ibadah tidak berguna, karena muara agama adalah hati. Namun secara spiritual karena keduanya melengkapi. Sebagaimana pernyataan Imam Malik ra. “ barang siapa menjalani syariat tanpa sampai kepada hakekat maka ia telah fasik. Barang siapa mencapai hakekat tetapi tidak menjalan syari’at maka ia zindik. Dan barang siapa mengumpulkan keduanya maka sungguh ia telah mancapai hakekat ( spiritual )“

Minggu, 22 Agustus 2010

WAROK BUKAN MALAIKAT
untuk Saudaraku di Malaysia


warokkini, agustus 2010 : Dalam sebuah forum warok dihujat berperilaku bejat dan tidak bermoral karena berhubungan dengan sesama jenis, yaitu gemblak. Mereka menyitir pengakuan mantan gemblak dan beberapa orang yang mengaku warok, akan perilaku mereka yang buruk. Namun, apakah fakta ini dapat dijadikan alat eksekusi. Untuk menghakimi semua warok melakukan criminal. Bahkan secara tendensius ia menyatakan orang jawa dibenci di Malaysia.

Jujur, hal buruk yang disampaikan dalam forum itu mungkin saja terjadi. Sampai saat ini juga, banyak idiom Warok yang digambarkan sebagai bukan orang baik-baik. Mereka berkata kasar, suka mabok dan berperilaku menyimpang. Untuk itulah, kita berusaha mencari jejak luhur para warok, untuk kita generalisasikan sebagai nilai yang dapat dianut pada jaman sekarang ini. Paling tidak kita berharap, orang akan mengerti siapa yang pantas disebut warok, atau sekedar marok 1) .

Para Gotrah Warok, perilaku pathologi dalam sebuah nilai budaya dapat terjadi dimana saja. Penyimpangan perilaku seperti itu tidak hanya terjadi di bumi Ponorogo. Bukankah di Malaysia ada Polisi dan lembaga peradilan lainya. Ini indicator bahwa penyimpangan perilaku social dapat juga terjadi disana. Para Warok bukan Malaikat.

Namun saudaraku sebenarnya warok adalah manusia unggul dari sesamanya, karena memiliki kemampuan emosional dan spiritual yang baik. Warok juga memiliki integritas social dan pribadi yang menarik. Untuk itulah saya yakin semua orang dapat mencapai derajad warok asal mengikuti laku dan mampu mengadposi nilai-nilai sang warok. Mugkin warok masa kini sudah berdasi dan berjas licin, atau bergumul dengan harumnya Lumpur disawah bahkan berbaju safari yang megah. Namun apapun pakainya, jiwanya tetap seorang warok.

Janganlah warok hanya dijadikan simbul budaya, namun samasekali tidak berakar di jiwa Percayalah, dijaman sekarang pun nilai-nilai luhur sang warok dapat di terapkan dalam kehidupan sehari-hari. Kesaktian warok masakini bukan pada kolor-nya yang sebesar lengan, namun pada integritas pribadi , kapasitas sosial dan dalamnya penghayatan spiritual , sehingga mampu dijakan panutan bagi sesama. Inilah koreksi pada budaya kita dijaman masakini, warok hanya dijadikan Icon tanpa dihayati nilai-nilainya.

Warok ibaratnya adalah seekor lebah, ia hanya mengambil sari bunga yang baik, ketika hinggap diranting tidak menggoyahkanya, dan ketika mengeluarkan ia mengeluarkan yang bermanfaat berupa madu. Namun jangan sekali-kali mengganggunya ia bertaruh jiwa raga untuk membela diri. Warok juga demikian, sang warok adalah jiwa yang suci karena ia berusaha menjaga kesucianya , baik secara hakekat atau secara fisik.

Kembali kita lacak jejak budaya sang warok yang bersumber dari nilai Islam. Kita tahu bahwa budaya Ponorogo, sebagaimana daerah Mataraman lainya tidak lepas dari sentuhan para wali songo 3) yang berusaha memadukan budaya local dan nilai-nilai Islam. Dari beberapa referensi, menyebutkan warok berasal dari bahasa arab yaitu warra, Abu Zakaria Al Anshari menyatakan warra’ adalah menyingkir dari yang subhat 4) dan yang halal 5) yang tidak membawa kebaikan . Sedangkan Imam Qusyairi, menyatakan bahwa warra’ adalah meninggalkan yang subhat dan meninggalkan yang tidak menjadi kepentinganya. Dengan demikian jelas bahwa warok haruslah mampu mengendalikan nafsunya agar hanya memilih yang terbaik dan menolak yang kurang baik apalagi hal-hal yang buruk.

Gotrah warok, ajaran mendasar bagi seorang warok, untuk bersikap warra’ tersebut adalah mecegah sikap tamak dan serakah yang diakui atau tidak merupakan penyakit hati yang menginspirasikan banyak kekacauan dimuka bumi. Seorang Warok hanya mengambil yang halal, itupun sekedar yang dibutuhkan. Perkara yang belum jelas akan dihindari, apalagi melakukan hal yang buruk dan aneh seperti berhubungan seksual dengan sesama jenis. Tidak mungkin !

Pada penerapanya, wahai gotrah warok, sangat tidak mudah untuk menata hati kita seperti itu. Nafsu kita pasti ingin memiliki yang paling banyak, dan menikmatinya sepuas-puasnya, Untuk itulah, perlu penggemblengan untuk memperkuat pertahanan diri, juga dibutuhkan keberanian luar biasa dan sungguh-sungguh untuk melawan nafsu sahwat. Usaha keras dan bersungguh-sungguh ini disebut jihad, sabda Rasul Jihad yang paling besar adalah melawan hawa nafsunya sendiri.

Dampak luar biasa akan terjadi apabila jihad kita berhasil, terutama kita akan memperoleh jiwa yang tangguh bagai gunung batu. Apabila kita memiliki daya pengendalian diri yang kokoh maka kesaktian yang hakiki akan kita peroleh, jangankan musuh yang jauh, musih paling dekat dalam selimut bahkan dalam jiwa kita mampu kita kalahkan.

Jiwa kita tidak lagi tergantung kepada manusia lain atau kepentingan diluar kehendak merengkuh kasih Tuhan. Tidak perlu bantuan pengawas atau polisi atau KPK untuk mengindarkan berbuat buruk. Ketika puasa ,walaupun tidak ada orang lain kita tetap disiplin untuk tidak makan dan minum. Seperti itulah, sang warok tetap dapat menjaga hatinya meskipun dalam keadaan sepi. Seorang warok mampu mensucikan hatinya dari kepentingan-kepentingan lain selain memperoleh ridlo Tuhan.


Catatan :
1) marok , bertingkah seperti warok namun bukan warok
2) kolor, ikat pinggang dari untaian benang
3) Wali songo, kelompok penyebar Agma Islam di Pulau Jawa pada jaman kerajaan Demak dan Mataram
4) Subhat, perkara yang belum jelas kedudukan hukumnya, apakah haram atau halal
5) Halal, perkara yang jelas dibolehkan, lawanya haram

warok dan tasyawuf

WAROK DAN TASYAWUF

Dari beberapa catatan sejarah, dapat dihipotesa bahwa istilah warok muncul bersamaan dengan masuknya Islam di Ponorogo. Secara kontekstual hal ini berkait dengan strategi dakwah para wali yang beberapa diantaranya berupaya mengasimilasikan kearifan lokal dengan ajaran Islam. Secara sosial Politik, dimasa transisi beralihnya kekuasaan kerajaan Hindu Majapahit ke kerajaan Islam demak bintoro , membutuhkan kearifan dalam strategi dakwah.

Para Wali menyadari benar, bahwa tidak bijaksana apabila kebiasaan lama dirubah secara frontal.Salah satu kearifan itu dilakukan melalui media seni budaya. Sunan Kalijogo yang menggubah wayang kulit , sebenarnya bukan hal baru sama sekali, karena di era Majapahit sudah dikenal pertunjukan wayang beber . Namun Sunan kalijaga mengenalkan ajaran Tasyawuf dengan memasukkan unsur Panakawan. Sunan Kudus membangun Menara Masjid Kudus dengan bentuk mirip candi, begitupula sunan Giri dan Sunan Drajad yang memperkenalkan gending-gending sufi yang begitu populer di Masyarakat
Tokoh sentral dalam penyebaran Islam di Ponorogo adalah BATHARA KATONG. Bathara Katong adalah adik dari Raden Patah Raja Demak yang sama-sama putra dari raja Majapahit, namun secara politik sudah dikuasai oleh para wali. Dengan demikian sebenarnya dapat ditarik benang merah, strategi budaya di Ponorogo dengan pola politik dakwah di Jawa pada Umumnya yang pada masa itu sedang dikembangkan ajaran tasawuf.

Gotrah warok, Untuk melacak jejak keluhuran sang warok maka ada baiknya kita mengenal ajaran tasyawuf. Karena saya yakin, inilah roh sebenarnya yang hendak di sampaikan para penggiat budaya pada jaman itu. Tasyawuf berasal dari kalimat safaa, yang artinya suci atau jernih. Namun dapat dijelaskan bahwa Tasyawuf adalah ilmu yang mempelajari hal ihwal tentang jiwa ; bagaimana membersihkanya dari sifat-sifat tercela menuju keridlaan Allah SWT. PROF. DR Hamka menyatakan tasyawuf adalah membersihkan jiwa dari pengaruh benda atau alam, supaya ia mudah menuju Allah.

Hadratus shaih Imam AL Ghazali menjelaskan Tasyawuf berarti memakan yang halal, mengikuti ahlak, perbuatan dan perintah Rasul yang tercantum dalam sunahnya. Sedangkan menurut IBNU KHALDUN Tasyawuf adalah metodhe pokok kaum sufi untuk selalu memperhitungkan jiwanya sampai ia benar-benar telah menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya.

Secara ta’lim taysawuf dapat dijelaskan bahwa :
1. Tema : Tema ilmu tasyawuf adalah pekerjaan hati dan pancaidra yang . berkaitan dengan penyucian dan pembersihan jiwa.
2. Manfaat : membersihkan hati dan mengenal Tuhan untuk memperoleh kebaikan dunia akhhirat.
3. Kajian Tasyawuf :
a. Takwa pada Allah, baik dikala sunyi atau ramai yang disebut wara’ dan istiqamah
b. Mengikuti sunah rasul.
c. Berpaling dari kepentingan kepada makhluk dan semata mengabdi pada Allah yang tercermin dari sikap sabar dan tawakal.
d. Ridla terhadap pemberian Allah,
e. Ruju’, kembali kepada Allah disaat dankondisi bagaimanapun.
4. Problematika Tasyawuf : Zuhud, Wara’, Mahabah, fana’ , baqa, raja’, penyakit hati , taubat, Istiqmah, dll.

Dari uraian diatas jelas sekali, bahwa istilah warok di Ponorogo, diambil dari salah satu problematika tasyawuf yaitu wara’. Yang sebenarnya tidak bisa dipisahkan dari problematika - problematika tasyawuf lainya. Untuk mencapai derajad tertinggi seorang sufi yaitu Ma’rifat . Ma’arifat artinya apabila seseorang karena kecerdasan dan Karunia dari Tuhan ia diberikan kesempatan mengenal lebih banyak hakekat, sifat dan kasih Allah swt. Sehingga hatinya tenteram di dunia dan akhirat kelak.

Ada 3 terma dalam ilmu tasyawuf, yaitu syari’at, thariqat dan hakekat. Ketiga-tiganya haruslah ada dan saling mengadakan, kalau tidak maka akan terjerumus kesesatan. Syari’at adalah hukum formal yang bersumber dari al-Quran dan hadits nabi, yang harus dilaksanakan berisi perintah dan larangan Allah. Thariqah, adalah aktualisasi dari syari’ah dalam kehidupan nyata berupa perbuatan, fikiran dan sikap yang dapat dirasakan dalam hidup. Sedangkan hakekat adalah penghayatan dan terbukanya tabir antara manusia sebagai hamba terhadap Tuhannya. Sehingga hatinya benar-benar merasakan ada_Nya dengan hikmah-hikmah yang hakiki.

Imam Malik berkata : Barangsiapa menjalani syari’at tanpa sampai pada hakekat maka ia telah fasik. Barang siapa mencapai hakekat tetapi tidak menjalani syariat maka ia zindik, Dan barang siapa mengumpulkan keduanya maka sungguh ia telah benar-benar mencapai hakekat.

Tingkatan-tingkatan hati adalah sebagai berikut :
1. Nafs al-Amarah, tingkatan hati yang paling rendah, dimana ia masih tergantung kepada syahwat, kenikmatan biologis.dan dipenuhi sifat-sifat tercela, seperti serakah, sombong, takabur , dendam dsb.
2. Nafs al- Lawwamah, hati yang bercahaya dengan sinar hati, adalah hati yang dipenuhi Jihad ( mujahadah) untuk melawan nafsunya. Kadang ia menang kadang ia kalah dengan akal dan persepsinya sendiri.
3. Nafs al-muthmainah, hati yang bercahaya oleh sinar hati, adalah hati yang telah menang menundukkan syahwatnya. Ia bergulat dengan duniawi tapi hatinya telah bebas dari ketergantungan kepada makhluk.
4. Nafs al-mulhimah, hati yang di ilhami ilmu dan hikmah, ia telah berada dijalan-NYa dengan mantap, istikomah dan kana’ah.
5. Nafs al-Radliyah, hati yang telah benar-benar rela dan tunduk serta percaya secara total kepada Allah.
6. Nafs al-Mardliyah, adalah hati yang telah diridloi oleh Allah. Maka dia pantas disebut sebagai wali Allah, karena apa yang dilakukan adalah pencerminan dari sifat-sifat Allah.
7. Nafs Al-kamilah, adalah hati yang telah sempurna berad di jalan Allah

Para Gotrah warok, mari kita instropeksi diri, berada pada maqam level mana diri kita. Dibulan ramadlan, ini adalah saat kita melakukan mujahadah, jihad melawan nafsu kita sendiri.





Kamis, 19 Agustus 2010

Tirakatan

PUASA :
LAKU MENGUATKAN JATIDIRI SANG WAROK

Dalam posting saya yang lalu , ajaran mendasar bagi seorang warok adalah Warra’ dan Zuhud . Pencapaian kedua derajat itu adalah, mementingkan kehidupan akherat daripada kepentingan duniawi yang bersifat fana dan hina. Pemaparan ini digambarkan sebagai seorang manusia yang memiliki kodrat manusiawinya dapat mengambil keduniawian sebatas apa yang dibutuhkan untuk hidup dan kepantasan bagi kehidupanya
Seorang warok tidak akan terperdaya oleh keindahan duniawai karena kekuatan iman dan tawakalnya pada Tuhan. Zuhud dan warra’ berlaku untuk sesuatu yang ada, disertai kemampuan dan kesempatan untuk mendapatkanya. Jadi seseorang yang mengabaikan kehidupanya, sehingga dia jatuh miskin dan lemah , tidak bisa memperoleh zuhud dan warra’. Gotrah warok, pada kenyataan sungguh tidak gampang untuk mengambil sikap zuhud dan warra’ tersebut.

Hanya diri yang kuat dan kemampuan yang teruji akan dapat memperoleh derajad warok. Pertarungan hebat akan senantiasa bergulat setiap saat antara nafsu dan naluri relegius-nya. Musuh yang paling jahat bagi seorang warok adalah nafsunya sendiri. Untuk itulah dalam pencapaian derajad warok dikenal laku untuk menguatkan diri yang disebut laku Tirakat.

Secara Umum laku tirakat adalah pendadaran atau pengajaran untuk mengendalikan nafsu sahwat. Dapat dengan puasa, nenepi ( menyepi untuk merenung ), atau bertapa. Kebiasaan melakukan Laku ini hingga , meninggalkan jejak budaya yaitu grebeg suro. Meskipun pada saat kekinian grebeg suro lebih berupa perayaan, namun nilai sebenarnya adalah tirakatan.

Dalam kesempatan ini , para gotrah warok, coba kita dalami Puasa dalam laku kekinian, dimana pada saat ini ( Agustus 2010 ) Sebagian besar masyarakat Ponorogo menjalankan Puasa Ramadlan. Saya tidak mengulas dalam kajian sariah Islam, tetapi sebagai tinjauan budaya di Ponorogo. Meskipun tentu secara umum mengkristalkan niali-nilai Islam sebagai salah satu sumber nilai budaya Warok.

Puasa biasanya dilakukan masyarakat muslim di Ponorogo pada bulan yang diwajibkan puasa yantu bulan Ramadlan. ( sasi poso ). Selain itu dikenal laku puasa yang tidak terkait langsung dengan sariat Islam, misalnya Puasa Senen kamis, puasa pati geni, puasa ngrowot , puasa mutih dan sebagainya. Bahkan ada laku puasa yang bersumber dari ritual Hindu Majapahit, seperti ritual pati geni ( tidak boleh melihat cahaya ) atau animisme, misalnya puasa mutih dan ngrowot .Puasa mutih yaitu mencegah makan sesuatu selain nasi putih, sedangkan ngrowot adalah mencegah makan sesuatu selain hasil palawija, seperti ketela, ubi, ganyong, serut dll.

Inti dari Puasa adalah mengendalikan nafsu duniawi, yaitu makan, minum dan nafsu sahwat ( sexual ) dari terbitnya fajar hingga terbenamnya matahari. Bahkan disaat puasa, pantang melakukan hal-hal buruk yang melanggar sarak ( syariat ). Untuk puasa-puasa lainya seperti mutih, pati geni, ngrowot dan sebagainya, juga bermaksud menekan nafsu sahwat. Puasa pati geni mencegah untuk melihat cahaya ( apa indahnya dunia ini tanpa cahaya, hanyalah hitam kelam ). Konon Patih Gajahmada juga melakukan Puasa khusus sebagai tirakat, beliau tidak akan makan buah kelapa, sampai Majapahit memperoleh kejayaan, yang kita kenal dengan sumpah palapa.

Kebiasaan puasa akan menguatkan hati kita. Menguatkan mental dan nurani kita agar kuat dan tangguh melawan nafsu. Jadi, Selama puasa nafsu kita ( syaitan ) dipenjara dengan terali kesetiaan kita pada Tuhan. Apabila para gotrah warok rajin Puasa maka hikmah yang paling besar adalah merdekanya fitrah nurani kita dari penjahan nafsu syaitan. Apabila niat-niat jahat, keinginan-keinginan akan kesenangan duniawi dapat kita abaikan, maka akan sampailah kita kepada derajad sang warok

post by: kang padjar

Tema terkait :
1.Zuhud para warok
2.Ati sing kumanthil sahwat
3.ora kumanthil kadonyan
4. warok bukan lesbian
5. warok berani mengalahkan nafsunya sendiri



Rabu, 11 Agustus 2010

ZUHUD SANG WAROK

SELAMAT PUASA
Berlebihan itu tidak baik, meskipun dalam hal ibadah. Allah memerintahkan kepada kita sekalian untuk tidak berlebih-lebihan. Karena Islam mengajarkan kepada kita sekalian beribadah sesuai dengan kemampuan, kepatutan, dan kewajaran. Memang ada, ibadah yang berlebihan ? Saya pernah ditanya oleh seorang wanita, yang merasa iri dengan kaum laki-laki dibulan ramadan.Pernyataan semacam itu sekilas memang baik apabila dikaitkan dengan semboyan berlomba-lombalah dalam kebaikan, sedangkan ibadah puasa adalah termasuk kebaikan.
namun apabila kita renungkan secara jernih, pernyataan sahabat saya itu mengandung nafsu sahwat untuk memperoleh kebaikan ( baca : keuntungan) pahala yang berlipat-lipat di bulan penuh rahmad ini. Dan itulah nafsu, seringkali nafsu mengalahkan keiklasan kita dalam tawakal kepada Allah. Dan disini,dapat kita cermati, pernyataan tidakpuasnya atas ketetapan Allah tentang halangan berpuasa bagi wanita ( menstruasi) adalah akibat dari nafsu
Jadi waspadalah saudaraku, untuk memurnikan niat memang perlu perjuangan yang keras, bahkan itulah jihad yang paling besar.

Rasulullah Muhammad SAW, suatu saat bepergian jauh dengan para sahabatnya disaat puasa. Diantara para sahabat ada yang menjalankan puasa, ada pula yang tidak berpuasa. Ditengah perjalanan yang terik, mereka kepanasan, sebagian berlindung dengan mantelnya, namun sebagian yang lain lagi
, terpaksa berjatuhan kehabisan tenaga karena menjalankan ibadah puasa. Kemudian para sahabat yang tidak berpuasa menolong saudara-saudaranya untuk membuatkan pelindung dari pohon kurma. Rasulullah memuji sahabatnya itu, dan menyatakan sahabat yang tidak puasapun membawa pahala yang sangat banyak.
Kisah ini, bukan melegalkan kita untuk seenaknya dan semaunya menjalankan ibadah puasa, tetapi menempatkan pada hakekat yang sebenarnya, bahwa Islam adalah agama yang manusiawi dan mengajarkan perilaku umatnya untuk bersikap sewajarnya pula

Tidak benar bahwa Islam itu mengajarkan kekerasan. Islam itu tegas, pernyataan ini memang tidak disangkal, tetapi ketegasan itu tetap masih dalam ukuran yang dapat dilakukan manusia. Apabila Manusia mendapat halangan, maka boleh saja ibadah itu ditunda, seperti halnya Puasa para sahabat tersebut, dapat ditunda lain kali. Penundaan ( khodo') itu tentu tidak semena-mena , akan tetapi ada syarat-syarat, misalnya boleh menunda puasa apabila dalam perjalanan untuk tujuan kebaikan dan bersifat penting, dalam jarak yang jauh. Sedangkan apabila puasa maka dikawatirkan akan menghalangi tercapainya hajat umat itu.
ibadah tidak menghalangi manusia untuk berprestasi dan berkarya besar.

Itulah Indahnya Islam para warok gotrah Ponorogo, keseimbangan hidup , irama hidup tetap dijaga dengan indah dan harmonis. Berserah diri pada Allah adalah kunci untuk kita memperoleh kebaikan dunia dan akhirat.

Sabtu, 07 Agustus 2010

ORA KUMANTIL KADONYAN

warokkini, Ora kumanthil kadonyan ora ateges ora kadunungan donya, Tidak bergantung duniawi bukan berarti melepaskan keduniaan. Pitutur luhur para tetua warok tersebut memberikan ruang waktu kodrat manusia untuk menjalani hidup wajar, menurut jamanya. Pemahaman inilah yang memungkinkan Gotrah Ponorogo kukuh memegang nilai warok di saat kekinian.
Dalam tulisan saya yang lalu saya ulas bahwa warok adalah pencapaian spiritual dimana seseorang mampu melepaskan nafsu sahwatnya. Hakekat warok yang menahan diri terhadap keburukan dan melepaskan diri berbuat berlebihan mengandung nilai Juang bahwa warok telah mampu memerdekakan diri dari penjajahan nafsu.

Para Gotrah warok, pemahaman diatas sama sekali tidak bermaksud merubah kodrat manusia sebagai manusia. Manusia tidak akan pernah menjadi dewa atau malaikat. Manusia tetap menjalani fitrah manusiawi, yang perlu makan untuk hidup, perlu cinta untuk bersosialisasi, perlu istri dan rumah tangga untuk kembali sehabis bekerja dan mengabdi.

Dari akar ajaran warok itu sendiri yaitu zuhud dan wara’, dimana wara’ dimaksudkan mampu menahan diri untuk berbuat mudharat ( keburukan ) sedangkan Zuhud dimaksudkan sebagai pengendalian diri untuk tidak berlebihan menuruti kesenangan, dapat dipahami bahwa kedua fondasi spiritual itulah laku utama untuk memerdekakan diri bergantung pada nafsu shawat, dan menjadi seorang warok sejati.
Laku seorang warok yang memerdekakan diri dari nafsu duniawi, bukan berarti melepaskan dunia ini sama sekali. Ini adalah sesuatu yang mustahil dan bertentangan dengan kodrat manusiawi sebagai manusia. Yang disebut Zuhud adalah apabila Engkau meninggalkan dunia dari hatimu meskipun dunia itu dalam genggamanmu. Sebagaimana dicontohkan Umar bin Khatab, meskipun beliau seorang khalifah ( raja ) dimana kekuasaan, harta dan tahta ada digenggamanya, beliau tetap hidup sederhana dan bersahaja. Sama sekali tidak dianggap nafsunya untuk bersenang-senang berlebihan dan memanfaatkan kekuasaan, harta dan tahta yang ada digenggamanya.

Seorang warok masa kini tidak harus hidup miskin, compang-camping dan menderita. Orang yang susah hidupnya karena miskin, tidak dapat disebut zuhud, karena barangkali hatinya justru marah dan menyalahkan Tuhan. Bahkan sering berbuat maksiat ( tidak wara’ ) untuk mencukupi kebutuhanya.
Zuhud seorang warok berarti tidak memanfaatkan kukuasaan, kemampuan , harta dan kesempaan untuk memperturutkan nafsu sahwatnya. Dan apabila hatinya sudah terbebas dari nafsu, yang ada hanyalah nilai-nilai kearifan dari Tuhan. Hatinya hanya ada Tuhan, itulah yang dimaksudkan sebagai warok sejati.

ATI SING KUMANTHIL SAHWAT

ATI SING KUMANTHIL SAHWAT
DUDU WAROK



warokkini, Hati yang bergantung pada nafsu syahwat, bukan hati warok.. Pitutur Luhur atau Pedoman luhur para tetua adat ini , bermakna bahwa pencapaian derajad warok adalah sebuah perjalanan spiritual yang panjang, setahap demi setahap dan menurut laku sesuai usaha dan kematangan tumbuh dan berkembangnya manusia itu sendiri.
Dalam bahasan terdahulu saya sampaikan makna warok, Namun apa yang kita lihat saat ini, penggambaran sosok warok yang kasar, seram dan membuat takut orang , hendaklah digambarkan sebuah laku yang memang harus demikian adanya. Saya sangat prihatin , bahwa dalam pertunjukan reog yang seharusnya suci dan sakral , sering dinodai oleh ulah para warokan yang justru menjunjung nafsu sahwatnya. Dalam pergelaran reog sering kita jumpai mabuk-mabukan dan pamer kekuatan, serta pamer aurat penari jathil yang sebagian besar adalah para gadis remaja.

Mereka beralasan, ya itulah tuntutan jaman. Namun demikian sebagai dlondong Ponorogo, seharusnya kita pertahankan nilai-nilai luhur itu, saya tidak anti perubahan, sepanjang yang dirubah adalah geraktari dan pola pergelaran, tetapi nilai-nilai luhur warok harus tetap tertanam di jantung Putra Ponorogo sejati.


Kita sadari benar wahai gotrah Ponorogo bahwa laku seorang warok memang bertahap, dan yang kita saksikan saat ini adalah para WAROKAN, bukan para warok. Mereka memang pantas disebut warok dalam pengertian nek wareg ngorok. Lebih kasarnya perilaku mereka ( maaf ) setingkat dengan para preman terminal bus. Dan itu bukan warok sejati.

Untuk menjadi warok masakini, kita tidak harus selalu pakai pakaian serba hitam, berjambang lebat dan perut buncit. Penampilan fisik boleh sesuaikan kepentingan, boleh pakai jas berdasi ala eksekutif, berpakaian safari ala pejabat, bersorban ala kyai atau apapun situasinya yang penting pegang teguh ajaran para leluhur warok.

Para gotrah Ponorogo, pencapaian derajat warok , dimana kita sudah mampu memerdekakan hati kita dari penjajahan nafsu sahwat memang tidak mudah, bahkan itulah perjuangan besar dan memerlukan keberanian besar pula. Tapi jangan khawatir, bahwa kita jalani hidup ini sewajarnya saja sambil menjiwai nilaui-nilai warok itu. Nanti, pada saatnya kita bisa mencapai derajat itu. Karena nilai-nilai warok itu sebenarnya juga nilai-nilai Universal dan sesuai fitrah manusia.

Penggambaran pencapaian nilai luhur para warok itu, secara kultural sejiwa dengan ajaran Sunan Kalijaga tentang Panakawan , semar gareng petruk dan bagong. Kita tahu bahwa dimasanya Ponorgo juga tidak lepas dari pengarus para wali juga sebagaimana daerah mataraman yang lain. Ajaran ini senyawa dengan ajaran tasawuf Ulama besar Imam Ghazali. Menurut Sunan Kalijaga pencapaian spiritual manusia dijabarkan empat karakter yaitu Semar, Gareng, Petruk dan Bagong. Senada apa yang dikiaskan Imam Gazali tentang Lawamah, Mardiyah, amarah, mutmainah hingga mencapai ma’rifat.

Bagong, sebagai sosok wayang yang bermata lebar, mulut lebar, perut buncit itulah pencapaian spiritual yang paling rendah. Dia adalah para warokan dimana masih dikuasai nafsu sahwat. Matanya tidak bisa dikendalian untuk melihat maksiat, mulutnya tidak bisa diam untuk berkata kasar, perutnya buncit karena tidak peduli makan perkara haram atau batal.

Petruk, digambarkan sebagai sosok yang serba panjang, mulut panjang, hidung panjang , badan panjang dan kaki tangan panjang. Petruk dari kalimat fikr, artinya berfikir dan suka mengandalkan ilmunya. Ini derajat yang lebih baik, meskipun masih merasa sok pintar, sombong , sok ilmiah dan pakar ( apa-apa dibikin jadi sukar ) , namun sering juga hidungnya panjang ( seperti pinokio ) karena sering tidak jujur pada hati nuraninya. Dia lebih percaya pada persepsinya daripada mengikuti hakekat dan prinsip-prinsip Universal.

Gareng sebagai sosok yang matanya juling, kakinya cacat, tanganya cekot ( invalid ) . Ini pencapaian yang lebih baik dalam pengendalian nafsu. Meskipun masih harus bertempur habis-habisan dengan sahwatnya tetapi sudah dapat dikendalikan dengan bicara seperlunya, membuitakan mata dan telinga untuk mengindra maksiat, berjlan merunduk untuk menekan kesombonganya.

Derajat yang paling tinggi adalah Semar, dia selalu menegadah keatas dan hanya bergantung pada Tuhanya semata. Semar adalah makhluk setengah dewa, karena hatinya sudah merdeka dan sepenuhnya tidak ingin menuruti nafsu sahwatnya. Inilah Warok Sejati.

Bagaimana gotrah Ponorogo, anda masih menjadi bagong, petruk , gareng atau semar ?

Rabu, 04 Agustus 2010

Gemblak

Warok bukan lesbian, warok tidak berperilaku abnormal. Gemblak itu cermin kasih sayang dan pengendalian nafsu GEMBLAK , BENARKAH WAROK ITU LESBIAN ?

Dalam kajian yang lalu , saya ulas dua sikap dasar warok yaitu, berani menghindar dari berbuat buruk ( Wara’ ). Dan punya kekuatan mengendalikan diri untuk tidak berlebihan dalam hidup ( zuhud ). Disinilah sekiranya dapat kita gali, seperti apa fenomena gemblak.

Saat ini memang sepertinya sudah tidak lazim ada gemblak. Selama decade akhir ini, saya belum pernah melihat ada seorang gemblak satupun. Hal ini memang sebuah budaya yang tergradasi oleh jaman. Sewaktu saya kecil, diera 70 an, tidak kurang dari 5 orang gemblak didesa saya. Semuanya berasal dari daerah di Trenggalek. Gemblak adalah seorang remaja pria yang ganteng untuk disewa sebagai Jathil ( salah satu penari reog ). Mungkin saat ini Jathil adalah seorang perempuan, sehingga tidak diperlukan seorang Gemblak.

Seorang Gemblak, biasanya dikontrak selama 2 atau 3 tahun, untuk dipelihara oleh suatu komunitas masyarakat Ponorogo. Setelah selesai kontraknya mereka digaji dengan seekor sapi sesuai perjanjian. Dalam operasional memelihara gemblak inilah, biasanya diberlakukan pergiliran selama 3 hari sampai 7 hari setiap anggota komunitas. Gemblak juga bisa disewakan pada kelompok lainya, dengan membayar kas. Sewa gemblak ini biasanya digunakan untuk mendampingi temanten Pria saat bertandang ke mempelai wanita. Seseorang akan bangga dan mencerminkan status social yang tinggi apabila punya banyak gemblak.

Dalam hal ini, saya tidak pernah membuktikan ada praktek Homoseksual dan penyimpangan, karena pergiliran dimaksud, sebatas pada gotong royong memberi makan dan mencukupi kebutuhan gemblak saat berada pada masa kontrak, sebagai jathil dan pelengkap sebagai simbul status sosial seseorang.

Lepas dari itu semua, ada sisi lain yang secara tradisional dianut sebagai pantangan apabila seseorang menempuh laku ( proses ) menjadi seorang warok. Pantangan itu adalah dilarang keras menjalankan Mo limo ( 5 M ) : yaitu Madon , Maling , Madad, Minum dan main. Seorang warok dilarang keras bermain perempuan, mencuri, Narkoba, minuman keras dan berjudi. Hal ini semata sebagai rumusan nilai wara’ bahwa warok harus menghindar dari melakukan hl-hal yang buruk.

Ini sama sekali tidak berhubungan dengan tudingan bahwa warok tidak suka perempuan. Kenyataanya mereka Hidup Normal, Punya Istri dan anak-anak. Larangan itu adalah larangan berbuat Zina ( Madon ) tetapi mereka tidak dilarang untuk punya istri dan keluarga.
Dengan demikian sama sekali tidak benar bahwa seorang warok memelihara gemblak untuk menyalurkan nafsu birahinya, karena dilarang berhungungan dengan wanita.


jatidiri warok 2

Warok itu berani mengalahkan nafsunya sendiri. Warok bukan brandal tetapi cerminan pencapaian spiritual yang telah matang, berbudi pekerti luhur dan berani membela kebenaran.WAROK ADALAH PENCERMINAN KEMATANGAN JIWA


Warokkini, Dalam ulasan saya bagian 1 , hemat saya paling tidak ada 4 akar yang menjadi sumber budaya di Ponorogo, yaitu Islam, Hindu, Cina dan Animisme. Meskipun dalam Norma tidak mungkin disatukan tetapi secara kultural dapat terasimilasi secara baik. Sebagaimana warna budaya di daerah-daerah Mataraman lainya , Assimilasi antara berbagai budaya local dan pengaruh asing berbaur menjadi sikap hidup yang mereka sebut sebagai Budaya KEJAWEN.

Dalam hal ini saya akan mengulas sebutan warok, yang mana istilah ini tentu sudah sangat jelas warna Islamnya. Hal ini tidak lepas dari situasi akhir masa Kejayaan Majapahit dimana di Ponorogo terjadi gejolak Politik yang tak kalah rumit. Beberapa Bathara atau pemimpin wilayah kekuasaan majapahit termasuk Ponorotgo, tidak puas terhadap pemerintah pusat. Kita kenal beberapa Tokoh seperti Ki Ageng Kutu, atau demang Surukubeng atau dikesempatan lain disebat demang Surya Alam. Dari sebutanya jelas Ki Ageng Kutu bukan Bathara di Ponorogo, Tetapi karena tidak stabilnya Polotik maka pengaruh beliau ini sangat Dominan.

Disisi lain Pusat Pemerintahan Majapahit memang sedang Kritis, Majapahit sudah berada pada masa keruntuhan. Beberapa Bangsawan termasuk Raden Fatah bahkan mendirikan kerajaan Demak Di Jawa Tengah yang didukung para wali. Kerajaan Baru ini Jelas beraliran Islami. Dalam situasi inilah Raden Fatah mengutus kerabatnya yang bernama Raden Katong yang juga bangsawan Majapahit untuk mengendalikan Ponorogo dan akhirnya diangkat menjadi Bathara dan disebut Bathara Katong.

Akhirnya Ponorogo aman kembali namun saat itu sudah berada dibawah kendali Demak Bintoro, karena Majapahit benar-benar runtuh. Dimasa inilah berkembangnya Agama Islam di Ponorogo . Usaha Batahara Katong untuk menstabilkan Masyarakat Ponorogo, tidak hanya dengan jalur militer dan jalur politik tetapi juga dengan pengembangan budaya. Istilah warok disaat inilah mulai dikenal sebagai media dakwah .

Warok berasal dari bahasa Arab “ AL-WARRA” yang secara terminologis diartikan sebagai menahan diri dari berbagai hal yang dapat menimbulkan mudharat ( keburukan ) yang dapat menyeret kepada subhat dan akhirnya kepada yang kharam. Apabila ada istilah “ Wara’a yara’u war’an wa wari’an wa wari’atan “ diartikan menjaga dan mengindar dari perkara yang diharamkan. Pelakunya disebut wari’un wa muttawari’un . Al-warra’ adalah kekuatan besar yang dapat menggerakkan ketaqwaan pada Tuhan. (Al_Qaamuus, 3/96, assaaul-balagh hal.496 dan AL-Mu’jam Al-wasiith,21 )

Dalam ajaran Islam kemampuan untuk melawan nafsunya sendiri adalah jihad yang paling besar . Jihad memerlukan keberanian, Dengan demikian dalam kontek budaya Ponorogo Keberanian adalah salah satu nilai utama yang harus dipegang. Dalam pencapaian kematangan olah jiwa wara’ selalu disertai dengan zuhud. Wara’ artinya berani menahan diri untuk tidak melakukan keburukan, sedangkan Zuhud adalah berani menahan diri untuk tidak berlebihan melakukan hal yang menyenagkan. Muara keduanya adalah kesederhanaan.


KONTEK KEKINIAN SANG WAROK,

Orang Ponorogo mestinya geli, menyaksikan warok yang digambarkan tokoh sangar, dengan jambang lebat dan tubuh gendut ( bukan gempal ), serta berperilaku dan berkata kasar. Saya sering diledek, bahwa arti warok itu “nek wareg banjur ngorok “ arinya kalau sudah kenyang terus tidur ngorok.


Sosok Sang Warok
Penggambaran seperti itu sama sekali tidak relevan dengan nilai-nilai sang warok. Karena Para warok yang sebenarnya di Ponorogo secara fisik justru Alim, tidak ada yang gendut karena suka tirakat ( puasa ) bahkan pantang berperilaku kasar Siapa yang salah ?

Sedulur Ponorogo yang saya banggakan, Mari kita kembalikan nilai sang warok pada darah jantung kita. Kita revitalisasikan nilai-nilai itu sebagai sikap hidup sehari-hari. Kita harus menjadi warok masa kini, tidak perlu berlaku sirik, menguasai supranatural dan kesaktian yang menjadi tahayul. Tetapi kita endapkan nilai nilai sang warok jadi pegangan hidup :

1. Warok harus punya keberanian, bukan untuk mencelakai orang lain, tetapi untuk menundukkan nafsu buruk kita.
2. Warok harus punya kekuatan pengendalian diri, tidak hanya untuk berbuat buruk, tetapi mengendalikan diri bersikap berlebihan
3. Jaga diri kehormatan warok, jangan emosi dan berbuat kasar.
4.

Baca bagian selanjutnya .

Selasa, 03 Agustus 2010

jejak warok 1

reog dance
Akar budaya Ponorogo bersumber dari Islam, Hindu, animisme dan cina  

WAROK MASA KINI

Masihkah warok bisa menjawab tatantangan kekinian. Saya yakin didada setiap "wong Ponorogo " masih deras mengalir jiwa sang warok, lebih sekedar simbul atau bahkan kebanggaan. Namun
Dari WONG PONOROGO
demikian hendaknya menjadi catatan kita semua, bahwa nilai tersebut perlu tinggal sejarah semata. beberapa catatan
menujukan bahwa reog tidak bisa dipisahkan dari reog.Ada beberapa versi tentang reog, diantaranya secara latar politik disebutkan bahwa :
Pada dasarnya ada lima versi cerita populer yang berkembang di masyarakat tentang asal-usul Reog dan Warok, namun salah satu cerita yang paling terkenal adalah cerita tentang pemberontakan Ki Ageng Kutu, seorang abdi kerajaan pada masa Bra Kertabumi, Raja Majapahit terakhir yang berkuasa pada abad ke-15. Ki Ageng Kutu murka akan pengaruh kuat dari pihak rekan Cina rajanya dalam pemerintahan dan prilaku raja yang korup, ia pun melihat bahwa kekuasaan Kerajaan Majapahit akan berakhir.

Ia lalu meninggalkan sang raja dan mendirikan perguruan dimana ia mengajar anak-anak muda seni bela diri, ilmu kekebalan diri, dan ilmu kesempurnaan dengan harapan bahwa anak-anak muda ini akan menjadi bibit dari kebangkitan lagi kerajaan Majapahit kelak. Sadar bahwa pasukannya terlalu kecil untuk melawan pasukan kerajaan maka pesan politis Ki Ageng Kutu disampaikan melalui pertunjukan seni Reog, yang merupakan "sindiran" kepada Raja Bra Kertabumi dan kerajaannya. Pagelaran Reog menjadi cara Ki Ageng Kutu membangun perlawanan masyarakat lokal menggunakan kepopuleran Reog.
Dalam pertunjukan Reog ditampilkan topeng berbentuk kepala singa yang dikenal sebagai "Singa Barong", raja hutan, yang menjadi simbol untuk Kertabumi, dan diatasnya ditancapkan bulu-bulu merak hingga menyerupai kipas raksasa yang menyimbolkan pengaruh kuat para rekan Cinanya yang mengatur dari atas segala gerak-geriknya. Latar belakang sejarah reog yang tidak lepas dari kosep Politik dimasa jaman Majapahit akhir, yang kita tahu disana banyak terjadi huru hara karena tidak stabilnya Keamanan dan ketertiban.
Namun demikian dalam konteks budaya kita tidak bisa pungkiri, pengaruh budaya Cina, Islam dan Hindu.
sampai saat ini akar budaya itu masih terasa pekat dalam kehidupan sehari-hari. Seni reog yang secara mainstream masih dapat kita lihat benang merah kemiripan dari seni barongsai, begitu pula baju penadon ada kemiripan dengan baju tradisional orang cina.
Pengaruh budaya hindu, masih kita dapati dari kebiasaan kenduri dan sesaji, meskipun sudah mambaur dengan budaya Islam.