Laman

Tampilkan postingan dengan label anak desa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label anak desa. Tampilkan semua postingan

Selasa, 17 Mei 2011

PADI HIBRIDA TIDAK TAHAN WERENG

Saat ini petani sedang resah dengan adanya serangan hawa wereng yang menyerang padai, tak kurang Wakil Menteri Pertanian Bayu Krisnamurthi menduga maraknya penyebaran wereng coklat yang menyerang tanaman padi empat tahun belakangan ini akibat penanaman varietas padi hibrida yang tidak tahan wereng. begitu pernyataan beliau dalam kompas   , 18 mei 2010.
Menurut Bayu, introduksi benih padi hibrida yang tidak tahan wereng coklat diduga membangkitkan kembali serangan hama wereng coklat. Ia menyatakan, dalam waktu dekat pihaknya akan menyelenggarakan workshop untuk mendalami kemungkinan serangan hama wereng sebagai dampak introduksi benih padi hibrida yang tidak tahan wereng coklat. "Mudah-mudahan itu tidak benar," katanya.
Berdasarkan catatan Kementerian Pertanian, serangan hama wereng coklat terhadap pertanaman padi hingga April 2010 mencapai 22.7000 hektar. Tahun 2009 sejak Januari-Desember luas serangan hama wereng coklat sudah lebih dari 48.000 hektar.Sementara tahun 2006 hanya 28.000 hektar.
Varietas bibit padi hibrida dan local dinilai menjadi pemicu munculnya hama yang menyerang tanaman padi saat ini. Sejumlah jenis bibit padi bibit lokal dan hibrida ini dinilai tak cocok ditanam saat terjadi perubahan iklim yang ektrem seperti sekarang.

Selasa, 10 Mei 2011

Puluhan hektar tanaman padi diserang hama wereng, petani gagal panen


Puluhan hektar sawah di desa Ketonggo, kec. Bungkal Ponorogo, terancam gagal panen karena lahan padinya terserang hawa wereng, sehingga mereka terancam gagal panen. Dalam beberapa kesempatan petani sempat mengeluh bahwa mereka telah dua musim gagal terus, pada musim tanam 2009 -2010 lahan mereka gagal karena terserang jamur, namun sekarang juga gagal karena terserang hama wereng.

Jenis varitas padi yang diserang adalah jenis padi hibrida, jenis simbada dan intani. Namun petani berharap bahwa pemerintah dapat memberikan bantuan dan panduan bagi mereka, agar mereka tidak jatuh tertimpa tangga. Karena
sekarang  ini tidak nampak adanya upaya pemerintah untuk membantu petani membasmi hama dan penyakit pengganggu tanaman tersebut. Dalam mengatasi hama dan penyakit tanaman, petani dilepas begitu saja sesuai kemampuannya sendiri untuk membasmi hama dan penyakit. Pemerintah tidak memberikan solusi cara membasmi hama, namun cenderung selalu menyalahkan petani dan kondisi alam. seperti kondisi yang dihadapi petani di lapangan seperti banjir, kekeringan, hama, dll.. Dulu pernah ada bantuan pestisida dari pemerintah Jepang untuk membasmi hama wereng, yang tidak boleh diperjual belikan. Program bantuan seperti itu hendaknya dirintis kembali, agar beban petani lebih ringan dalam menangani masalah hama wereng. Seorang petani yang bernama Rahmat mengatakan bahwa  saat ini ibarat sudah jatuh tertimpa tangga, dalam sepetak sawah ( 100 are ) petani kurang lebih menghabiskan biaya Rp, 800.000,- .namun karena gagal petani diperkirakan juga kesulitan untuk menghadapi musim tanam berikutnya.
Tanaman padi yang diserang adalah jenis hibrida. dulu, sebelum ditemukan VUTW (Varietas Unggul Tahan Wereng), hama wereng pernah menjadi masalah serius di desa ini.. Setelah ada VUTW persoalan hama wereng bisa teratasi. Namun masih banyak petani yang  belum paham munculnya beberapa jenis/biotipe hama wereng baru yang tidak mempan lagi terhadap obat/pestisida tertentu maupun VUTW. Sifat hama wereng secara alamiah akan selalu melakukan adaptasi terhadap lingkungan. Manakala hama wereng tidak mampu makan padi Ciherang, dia akan merubah dirinya sehingga mampu menyerang padi Ciherang.

Untuk memutus siklus serangan hama wereng, perlu ada pergiliran pertanaman varietas. Misalnya musim tanam sekarang menanam padi intani, kemudian untuk musim tanam berikutnya harus diganti dengan varietas padi  situ bagendit , dan seterusnya. Dengan dilakukan pergiliran varietas, maka hama wereng sulit berevolusi/merubah menjadi biotipe yang lebih tahan terhadap obat-obatan/pestisida tertentu maupun VUTW. Untuk mengantisipasi berkembangnya hama wereng yang berubah menjadi biotipe baru, maka para peneliti selalu menyiapkan VUTW yang baru pula.
Hama wereng sangat mudah berkembang-biak pada saat cuaca lembab. Dengan kelembaban cuaca yang tinggi, maka hama wereng mudah sekali berkembang-biak, dan akan terus mencari tanaman padi yang tidak tahan hama wereng. Karena hama wereng tidak bisa berkembang-biak pada saat musim kering, sebaiknya padi hibrida lebih cocok ditanam pada musim kemarau. Dampak musim hujan yang berkesinambungan pada tahun ini agaknya memang menjadi penyebab terjadinya musibah serangan hawa wereng ini

Senin, 10 Januari 2011

MTA BUKAN ALIRAN SESAT.

MTA adalah aliran sesat, sekte murtad, itu isu pertama kali ketika saya mendapati informasi tentang majelis tafsir Al-Quran di sebuah blog. Tidak itu saja, ketika saya tanya informasi tentang Bp. Ahmad Jemikun, kebetulan orang yang saya tanya adalah orang ponorogo asli, pernah berdomisili di Sawoo , bahkan teman sekolah pak Ustadz. Namun, ketika nama dusun krambil, ds Pangkal kec. Sawoo Ponorogo saya sebut, wajah teman saya itu berkerut heran, entah mendirikan aliran apa si Ahmad Jemikun itu , katanya heran . Beruntungnya saya orang yang tidak gampang  berprasangka buruk, saya menghubungi ustadz ahmad Jemikun dengan telepun seluler, berkat bantuan teman kantor di nganjuk yang kebetulan juga penggiat MTA perwakilan Nganjuk. Beliau dengan ramah, mempersilakan untuk menjadi mustami' bahkan mengutus seorang anggota dari Pacitan untuk menjemput saya. Kesan sangar dan tertutup sama sekali tidak tampak.
    Namun demikian memang melihat lokasi yang terpecil, sederhana dan sepi, bisa menimbulkan praduga yang bermacam-macam, dikala isu teroris masih menghantui masyarakat. Bahkan istri saya juga berpikiran demikian, jangan-jangan MTA itu sempalan dari paham radikal yang banyak juga tokohnya dari Solo,  Pusat MTA yang selama ini diduga banyak menyimpan tokoh-tokoh aliran keras. Perjalanan dari Kec. Sawo ke arah Trenggalek melalui jalan pegunungan yang sering longsor  lebih kurang 10 Km sampai ke SDN Pangkal I, dari sana harus melalui jalan menanjak dan berbatu sekitar 3 Km. Jalan desa di tengah hutan pinus itu benar-benar sepi dan agak sulit menurut saya. Namun melihat keramahan dan kesederhanaan oarang-orang desa itu saya yakin , tidak ada yang salah dengan MTA.
    Pencitraan diri bagi agama Islam memang   membutuhkan waktu yang lama, namun demikian bahwa citra keliru terhadap Islam  justru jangan dibuat menjadi gelap oleh orang Islam sendiri. Sikap saling menghujat dan menuduh bahkan memfitnah saudara sendiri jelas-jelas sikap yang tidak terpuji. Saya sejak kecil hidup di lingkungan yang mengikuti Jama'ah N U. Bahkan saya begitu bangga melihat ayah saya jadi pimpinan Anshor di kala mudanya. Ketika beranjak dewasa, saya banyak berteman dengan teman-teman yang aktif di Muhamadiyah, sayapun memahami kebiasaan dan pandangan - pandanganya serta bisa mendudukkan perbedaan sikap terhadap warga NU dengan lebih proporsional. Belakangan saya juga berteman dengan warga jama'ah Tabligh dan yang terkini saya ingin tahu lebih banyak tentang MTA.
   Dengan pemikiran yang jernih, saya melihat sebenarnya berbedaan - perbedaan dengan organisasi umat itu adalah warna yang tidak harus disikapi dengan antipati, karena persoalanya hanya metodologi. Warga NU dan Muhamadiyah memang punya kebiasaan yang berbeda, begitu juga warga MTA yang sedang membangun kebiasaanya sendiri. Dan sepanjang kesemuanya berpulang kepada kebesaran Asma Allah, maka perbedaan adalah rahmat. Dan ini justru tidak harus menjadikanya sebagai sumber perpecahan, Allah banyak memberikan petujunk dalam KitabNya yang agung tentang bagaimana menghurmati perbedaan. Ayo Bersatu saudaraku !

Rabu, 03 November 2010

selamat merantau di negeri sakura

Putra-Putra desa
yang mencari kehidupan dan kekayaan rohani, merantau hingga ke negeri sakura Jepang, semoga sukses, dan pulang membawa perubahan dan arti bagi desa kita.