Senin, 10 Januari 2011

MTA BUKAN ALIRAN SESAT.

MTA adalah aliran sesat, sekte murtad, itu isu pertama kali ketika saya mendapati informasi tentang majelis tafsir Al-Quran di sebuah blog. Tidak itu saja, ketika saya tanya informasi tentang Bp. Ahmad Jemikun, kebetulan orang yang saya tanya adalah orang ponorogo asli, pernah berdomisili di Sawoo , bahkan teman sekolah pak Ustadz. Namun, ketika nama dusun krambil, ds Pangkal kec. Sawoo Ponorogo saya sebut, wajah teman saya itu berkerut heran, entah mendirikan aliran apa si Ahmad Jemikun itu , katanya heran . Beruntungnya saya orang yang tidak gampang  berprasangka buruk, saya menghubungi ustadz ahmad Jemikun dengan telepun seluler, berkat bantuan teman kantor di nganjuk yang kebetulan juga penggiat MTA perwakilan Nganjuk. Beliau dengan ramah, mempersilakan untuk menjadi mustami' bahkan mengutus seorang anggota dari Pacitan untuk menjemput saya. Kesan sangar dan tertutup sama sekali tidak tampak.
    Namun demikian memang melihat lokasi yang terpecil, sederhana dan sepi, bisa menimbulkan praduga yang bermacam-macam, dikala isu teroris masih menghantui masyarakat. Bahkan istri saya juga berpikiran demikian, jangan-jangan MTA itu sempalan dari paham radikal yang banyak juga tokohnya dari Solo,  Pusat MTA yang selama ini diduga banyak menyimpan tokoh-tokoh aliran keras. Perjalanan dari Kec. Sawo ke arah Trenggalek melalui jalan pegunungan yang sering longsor  lebih kurang 10 Km sampai ke SDN Pangkal I, dari sana harus melalui jalan menanjak dan berbatu sekitar 3 Km. Jalan desa di tengah hutan pinus itu benar-benar sepi dan agak sulit menurut saya. Namun melihat keramahan dan kesederhanaan oarang-orang desa itu saya yakin , tidak ada yang salah dengan MTA.
    Pencitraan diri bagi agama Islam memang   membutuhkan waktu yang lama, namun demikian bahwa citra keliru terhadap Islam  justru jangan dibuat menjadi gelap oleh orang Islam sendiri. Sikap saling menghujat dan menuduh bahkan memfitnah saudara sendiri jelas-jelas sikap yang tidak terpuji. Saya sejak kecil hidup di lingkungan yang mengikuti Jama'ah N U. Bahkan saya begitu bangga melihat ayah saya jadi pimpinan Anshor di kala mudanya. Ketika beranjak dewasa, saya banyak berteman dengan teman-teman yang aktif di Muhamadiyah, sayapun memahami kebiasaan dan pandangan - pandanganya serta bisa mendudukkan perbedaan sikap terhadap warga NU dengan lebih proporsional. Belakangan saya juga berteman dengan warga jama'ah Tabligh dan yang terkini saya ingin tahu lebih banyak tentang MTA.
   Dengan pemikiran yang jernih, saya melihat sebenarnya berbedaan - perbedaan dengan organisasi umat itu adalah warna yang tidak harus disikapi dengan antipati, karena persoalanya hanya metodologi. Warga NU dan Muhamadiyah memang punya kebiasaan yang berbeda, begitu juga warga MTA yang sedang membangun kebiasaanya sendiri. Dan sepanjang kesemuanya berpulang kepada kebesaran Asma Allah, maka perbedaan adalah rahmat. Dan ini justru tidak harus menjadikanya sebagai sumber perpecahan, Allah banyak memberikan petujunk dalam KitabNya yang agung tentang bagaimana menghurmati perbedaan. Ayo Bersatu saudaraku !
Ada kesalahan di dalam gadget ini